Donasi : Bank BCA -- No. Rek, 8305-11-8393 --- A/N : ARINI

KEMARAHAN DAN PEMAAFAN - Cara Memadamkan Pemberontakan

Hasil gambar untuk pemandangan indah buddha

Ketika kita menyadari bahwa tak ada tempat untuk kabur, kita akan hadapi masalah, alih-alih melarikan diri. Kebanyakan masalah mempunyai solusi yang tak dapat kita lihat ketika lari dari permasalahan.


Pada pertengahan hingga akhir tahun 1970-an, saya mengalami pengalaman pribadi berkenaan dengan bagaimana suatu pemerintahan nasional menemukan suatu solusi bagi sebuah krisis besar, krisis yang sangat mengancam kelangsungan sistem demokrasi mereka.

Vietnam Selatan, Laod, dan Kamboja jatuh ke tangan kaum komunis hanya dalam hitungan hari pada tahun 1975. “Teori Domino” yang dipercaya oleh kekuatan-kekuatan Barat pada saat itu meramalkan bahwa Thailand pun akan segera jatuh ke tangan komunis. Selama periode itu, saya adalah seorang biksu muda di Thailand timur laut.

Wihara tempat saya menetap paling lama berjarak dua kali lebih dekat ke Hanoi ketimbang ke Bangkok. Kami diberitahu untuk mencatatkan diri ke kedutaan besar kami dan rencana evakuasi pun telah disiapkan. Kebanyakan negara barat terkejut ketika mengetahui bahwa Thailand ternyata tidak jatuh ke tangan komunis.

Saat iu Ajahn Chah cukup terkenal dan banyak jenderal penting dan pejabat senior Thailand datang ke wiharanya untuk meminta nasihat dan inspirasi. Saat itu saya telah fasih berbahasa Thai, dan sedikit bahasa Laos, jadi bisa cukup memahami keseriusan keadaan saat itu. Tentara dan pemerintah sebenarnya tidak mengkhawatirkan kaum gerilyawan Merah (komunis) yang berada di luar perbatasan, tetapi mereka mengkhawatirkan para aktivis dan simpatisan komunis yang berada di dalam negeri mereka sendiri.

Banyak mahasiswa Thai yang cemerlang telah beranjak ke hutan belantara di Thailand timur laut untuk memberi dukungan kepada tentara gerilyawan komunis internal – Thai. Persenjataan dan pelatihan mereka diberikan oleh kekuatan dari luar perbatasan. Tetapi desa-desa di bagian “merah muda” dari wilayah itu dengan senangnya menyokong makanan dan kebutuhan lainnya untuk mereka. Mereka mendapat dukungan dari penduduk lokal. Mereka menjadi ancaman yang gawat.

Pemerintah dan tentara Thai menemukan solusinya dalam tiga strategi berikut:

Menahan Diri
Tentara tidak menyerang markas komunis, sekalipun setiap prajurit tahu di mana lokasi markas mereka. Ketika saya hidup sebagai biksu pengelana pada tahun 1979-80, saat tengah mencari gunung dan hutan belantara untuk bermeditasi dalam kesunyian, saya akan menghampiri tentara yang sedang berpatroli dan mereka akan memberikan saran kepada saya.

Mereka akan menunjukkan sebuah gunung dan memberitahu saya supaya tidak pergi kesana – sebab disanalah kaum komunis tinggal. Lalu mereka akan menunjukkan gunung yang lain dan berkata bahwa gunung itu tempat yang bagus untuk bermeditasi, tak ada orang komunis disana.

Saya mengikuti nasihat mereka. Pada saat itu kaum komunis telah menangkap beberapa biksu pengelana yang sedang bermeditasi di hutan, dan membunuh mereka – setelah disiksa terlebih dahulu, begitu kata mereka kepada saya.


Mengampuni
Selama periode maut ini, diadakan suatu pengampunan di tempat dan tanpa syarat. Di mana pun salah satu kaum pemberontak ingin diampuni kasusnya, dia boleh meletakkan senjata begitu saja dan kembali ke desa atau kampusnya. Dia mungkin saja berada dalam pengawasan, tetapi tidak ada hukuman yang dikenakan kepadanya. Saya tiba di sebuah desa di wilayah Kow Wong beberapa hari setelah kaum komunis menyergap sebuah jip besar yang penuh dengan tentara Thai dan membunuh mereka
semua di luar desa itu. Anak-anak muda di desa itu sebagian besar bersimpati kepada kaum komunis, tetapi mereka tidak ikut bertempur.

Mereka bercerita kepada saya bahwa mereka sempat diancam dan ditahan oleh tentara Thai, tetapi dibebaskan lagi.

Memecahkan Akar Masalah
Selama bertahun-tahun itu, saya melihat jalan-jalan baru dibangun di daerah itu, dan jalan yang lama diaspal kembali. Para penduduk desa sekarang dapat membawa hasil produksinya untuk dijual ke kota. Raja Thailand mengawasi sendiri dan membiayai pembangunan ratusan waduk-waduk kecil yang terkait dengan rancangan sistem irigasi, yang memungkinkan para petani miskin di Thailand timur laut menanam padi
dua kali dalam setahun. Listrik masuk desa, menjangkau dusun-dusun terpencil; bersamaan dengan itu dibangun pula sekolah dan klinik. Wilayah termiskin di Thailand diberi perhatian penuh dari pemerintah di Bangkok, dan para penduduk desa pun menjadi relatif lebih makmur.

Suatu ketika, seorang tentara Thailand yang sedang berpatroli di hutan berkata kepada saya, “Kami tidak perlu menembak kaum komunis. Mereka semua saudara-saudara sebangsa kami. Apabila saya bertemu dengan mereka ketika mereka turun atau mengambil perbekalan di desa, kami mengenal siapa mereka, saya hanya akan memperlihatkan arloji baru saya, atau memperdengarkan lagu-lagu Thai dari radio baru saya – lalu mereka berhenti menjadi komunis. Itulah pengalamannya, dan juga rekan-rekan tentaranya.

Kaum komunis Thai memulai pemberontakan dengan begitu marahnya kepada pemerintah, sampai mereka rela mengorbankan masa mudanya. Tetapi penahanan diri sebagai bagian dari strategi pemerintah telah membantu mencegah kemarahan itu menjadi lebih parah. Pengampunan melalui amnest, memberikan mereka jalan keluar yang aman dan terhormat. Memecahkan permasalahan, melalui pembangunan, membuat penduduk desa yang miskin menjadi makmur.

Penduduk desa melihat tak ada perlunya lagi menyokong kaum komunis, karena mereka sudah merasa puas dengan pemerintahan yang telah mereka miliki. Dan kaum komunis sendiri mulai merasa sangsi dengan apa yang mereka perbuat, hidup dengan susah payah di pegunungan dan hutan belantara. Satu demi satu mereka meletakkan senjatanya dan kembali ke tengah keluarganya, kampung, atau kampusnya. Pada awal tahun 1980-an , nyaris tak ada lagi pemberontak yang tersisa, jadi para jenderal tentara gerilyawan, para pemimpin komunis, juga menyerahkan diri mereka.

Saya ingat pernah melihat sebuah artikel di Bangkok Post mengenai seorang pengusaha cerdik yang membawa para wisatawan Thai ke hutan, mengunjungi gua-gua bekas tempat kaum komunis yang sempat mengancam keutuhan bangsa.

Lalu apa yang terjadi pada para pemimpin pemberontakan tersebut? Apakah mereka juga ditawari pengampunan tanpa syarat seperti halnya anggota pemberontak? Tidak sama-sama amat. Mereka tidak dihukum, juga tidak diasingkan. Malahan, mereka ditawari jabatan penting dalam pelayanan pemerintahan Thai, sebagai pengakuan atas kualitas kepemimpinan mereka, kemampuan untuk bekerja keras, dan kepedulian kepada rakyat! Sungguh langkah yang cemerlang. Buat apa menyianyiakan sumber daya anak-anak muda yang pemberani dan berdedikasi seperti itu?

Ini adalah kisah nyata sebagaimana yang saya dengar dari para tentara dan penduduk Thailand di timur laut pada masa itu. Inilah yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Sayangnya kejadian seperti itu nyaris tidak pernah dilaporkan dimana-mana.


Pada saat buku ini ditulis, dua orang mantan pemimpin komunis itu telah mengabdikan diri mereka sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan nasional Thailand.

Sumber :
dapatkan buku ini di toko toko buku terdekat

Comments
0 Comments
>

Arini