Ketika kita menyadari
bahwa tak ada tempat untuk kabur, kita akan hadapi masalah, alih-alih melarikan
diri. Kebanyakan masalah mempunyai solusi yang tak dapat kita lihat ketika lari
dari permasalahan.
Pada pertengahan
hingga akhir tahun 1970-an, saya mengalami pengalaman pribadi berkenaan dengan
bagaimana suatu pemerintahan nasional menemukan suatu solusi bagi sebuah krisis
besar, krisis yang sangat mengancam kelangsungan sistem demokrasi mereka.
Vietnam Selatan,
Laod, dan Kamboja jatuh ke tangan kaum komunis hanya dalam hitungan hari pada
tahun 1975. “Teori Domino” yang dipercaya oleh kekuatan-kekuatan Barat pada
saat itu meramalkan bahwa Thailand pun akan segera jatuh ke tangan komunis.
Selama periode itu, saya adalah seorang biksu muda di Thailand timur laut.
Wihara tempat saya
menetap paling lama berjarak dua kali lebih dekat ke Hanoi ketimbang ke
Bangkok. Kami diberitahu untuk mencatatkan diri ke kedutaan besar kami dan
rencana evakuasi pun telah disiapkan. Kebanyakan negara barat terkejut ketika
mengetahui bahwa Thailand ternyata tidak jatuh ke tangan komunis.
Saat iu Ajahn Chah
cukup terkenal dan banyak jenderal penting dan pejabat senior Thailand datang
ke wiharanya untuk meminta nasihat dan inspirasi. Saat itu saya telah fasih
berbahasa Thai, dan sedikit bahasa Laos, jadi bisa cukup memahami keseriusan
keadaan saat itu. Tentara dan pemerintah sebenarnya tidak mengkhawatirkan kaum
gerilyawan Merah (komunis) yang berada di luar perbatasan, tetapi mereka mengkhawatirkan
para aktivis dan simpatisan komunis yang berada di dalam negeri mereka sendiri.
Banyak mahasiswa Thai
yang cemerlang telah beranjak ke hutan belantara di Thailand timur laut untuk
memberi dukungan kepada tentara gerilyawan komunis internal – Thai.
Persenjataan dan pelatihan mereka diberikan oleh kekuatan dari luar perbatasan.
Tetapi desa-desa di bagian “merah muda” dari wilayah itu dengan senangnya
menyokong makanan dan kebutuhan lainnya untuk mereka. Mereka mendapat dukungan
dari penduduk lokal. Mereka menjadi ancaman yang gawat.
Pemerintah dan
tentara Thai menemukan solusinya dalam tiga strategi berikut:
Menahan Diri
Tentara tidak
menyerang markas komunis, sekalipun setiap prajurit tahu di mana lokasi markas
mereka. Ketika saya hidup sebagai biksu pengelana pada tahun 1979-80, saat
tengah mencari gunung dan hutan belantara untuk bermeditasi dalam kesunyian,
saya akan menghampiri tentara yang sedang berpatroli dan mereka akan memberikan
saran kepada saya.
Mereka akan
menunjukkan sebuah gunung dan memberitahu saya supaya tidak pergi kesana –
sebab disanalah kaum komunis tinggal. Lalu mereka akan menunjukkan gunung yang
lain dan berkata bahwa gunung itu tempat yang bagus untuk bermeditasi, tak ada
orang komunis disana.
Saya mengikuti
nasihat mereka. Pada saat itu kaum komunis telah menangkap beberapa biksu
pengelana yang sedang bermeditasi di hutan, dan membunuh mereka – setelah
disiksa terlebih dahulu, begitu kata mereka kepada saya.
Mengampuni
Selama periode maut
ini, diadakan suatu pengampunan di tempat dan tanpa syarat. Di mana pun salah
satu kaum pemberontak ingin diampuni kasusnya, dia boleh meletakkan senjata
begitu saja dan kembali ke desa atau kampusnya. Dia mungkin saja berada dalam
pengawasan, tetapi tidak ada hukuman yang dikenakan kepadanya. Saya tiba di
sebuah desa di wilayah Kow Wong beberapa hari setelah kaum komunis menyergap sebuah
jip besar yang penuh dengan tentara Thai dan membunuh mereka
semua di luar desa
itu. Anak-anak muda di desa itu sebagian besar bersimpati kepada kaum komunis,
tetapi mereka tidak ikut bertempur.
Mereka bercerita
kepada saya bahwa mereka sempat diancam dan ditahan oleh tentara Thai, tetapi
dibebaskan lagi.
Memecahkan Akar
Masalah
Selama bertahun-tahun
itu, saya melihat jalan-jalan baru dibangun di daerah itu, dan jalan yang lama
diaspal kembali. Para penduduk desa sekarang dapat membawa hasil produksinya
untuk dijual ke kota. Raja Thailand mengawasi sendiri dan membiayai pembangunan
ratusan waduk-waduk kecil yang terkait dengan rancangan sistem irigasi, yang memungkinkan
para petani miskin di Thailand timur laut menanam padi
dua kali dalam
setahun. Listrik masuk desa, menjangkau dusun-dusun terpencil; bersamaan dengan
itu dibangun pula sekolah dan klinik. Wilayah termiskin di Thailand diberi
perhatian penuh dari pemerintah di Bangkok, dan para penduduk desa pun menjadi
relatif lebih makmur.
Suatu ketika, seorang
tentara Thailand yang sedang berpatroli di hutan berkata kepada saya, “Kami
tidak perlu menembak kaum komunis. Mereka semua saudara-saudara sebangsa kami.
Apabila saya bertemu dengan mereka ketika mereka turun atau mengambil
perbekalan di desa, kami mengenal siapa mereka, saya hanya akan memperlihatkan
arloji baru saya, atau memperdengarkan lagu-lagu Thai dari radio baru saya – lalu
mereka berhenti menjadi komunis. Itulah pengalamannya, dan juga rekan-rekan
tentaranya.
Kaum komunis Thai
memulai pemberontakan dengan begitu marahnya kepada pemerintah, sampai mereka
rela mengorbankan masa mudanya. Tetapi penahanan diri sebagai bagian dari
strategi pemerintah telah membantu mencegah kemarahan itu menjadi lebih parah.
Pengampunan melalui amnest, memberikan mereka jalan keluar yang aman dan terhormat.
Memecahkan permasalahan, melalui pembangunan, membuat penduduk desa yang miskin
menjadi makmur.
Penduduk desa melihat
tak ada perlunya lagi menyokong kaum komunis, karena mereka sudah merasa puas
dengan pemerintahan yang telah mereka miliki. Dan kaum komunis sendiri mulai
merasa sangsi dengan apa yang mereka perbuat, hidup dengan susah payah di
pegunungan dan hutan belantara. Satu demi satu mereka meletakkan senjatanya dan
kembali ke tengah keluarganya, kampung, atau kampusnya. Pada awal tahun 1980-an
, nyaris tak ada lagi pemberontak yang tersisa, jadi para jenderal tentara gerilyawan,
para pemimpin komunis, juga menyerahkan diri mereka.
Saya ingat pernah
melihat sebuah artikel di Bangkok Post mengenai seorang pengusaha cerdik yang
membawa para wisatawan Thai ke hutan, mengunjungi gua-gua bekas tempat kaum
komunis yang sempat mengancam keutuhan bangsa.
Lalu apa yang terjadi
pada para pemimpin pemberontakan tersebut? Apakah mereka juga ditawari pengampunan
tanpa syarat seperti halnya anggota pemberontak? Tidak sama-sama amat. Mereka
tidak dihukum, juga tidak diasingkan. Malahan, mereka ditawari jabatan penting
dalam pelayanan pemerintahan Thai, sebagai pengakuan atas kualitas kepemimpinan
mereka, kemampuan untuk bekerja keras, dan kepedulian kepada rakyat! Sungguh
langkah yang cemerlang. Buat apa menyianyiakan sumber daya anak-anak muda yang
pemberani dan berdedikasi seperti itu?
Ini adalah kisah
nyata sebagaimana yang saya dengar dari para tentara dan penduduk Thailand di
timur laut pada masa itu. Inilah yang saya saksikan dengan mata kepala saya
sendiri. Sayangnya kejadian seperti itu nyaris tidak pernah dilaporkan
dimana-mana.
Pada saat buku ini
ditulis, dua orang mantan pemimpin komunis itu telah mengabdikan diri mereka
sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan nasional Thailand.