Donasi : Bank BCA -- No. Rek, 8305-11-8393 --- A/N : ARINI

Tampilkan postingan dengan label Fiksi - Serial Vania dan Richard. Tampilkan semua postingan

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 7




Dalam mimpi aku melihat Richard terbaring di suatu gubuk yang sederhana, ada beberapa orang tua mengelilinginya. Seluruh badannya biru lebam, wajahnya sudah tidak sepucat semalam sewaktu aku memimpikannya, namun dia masih tidak sadarkan diri.  Sedangkan para orang tua yang mengelilinginya tampak berusaha menyembuhkan lukanya.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 6




Aku yang melihat kejadian itu berusaha sebisa mungkin mendekati Richard, namun kejadian yang sama terjadi, aku sama sekali tidak dapat menyentuh ataupun memegang Richard seujung jari pun, aku bagai bayangan yang menembus tubuh Richard. Aku  hanya bisa melihat beberapa orang dari perkampungan terdekat menggotong Richard dan bergerak menembus malam.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 5



Sesampai di Medan, aku tinggal di kos kosan tempat saudara Richard. Selama beberapa tahun Richard selalu menjagaku bak seorang ayah kepada anak. Sangat sayang dan menuruti semua kehendakku. Sedangkan aku juga sama, sangat menuruti kehendak Richard yang memang sangat dewasa. Selama puluhan tahun kami bersama, tidak pernah sekalipun Richard berlaku yang kurang ajar terhadapku.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 4


Richard mengulurkan tangannya kepadaku, dan membelai kepalaku dengan lembut, “Sudah, dik, anjingnya sudah pergi.” Di rengkuhnya badanku ke pelukannya. Hangat, kesan pertama yang kudapatkan darinya, seluruh badanku  bergetar karena masih tersisa ketakutan saat di kejar anjing tadi, tanpa terasa aku mulai menangis terisak isak, menangis lega. Dengan manja aku memeluk leher Richard yang saat itu tersenyum ramah menenangkan diriku yang masih nampak ketakutan. Sampai akhirnya aku terdiam karena ketiduran, Richard kemudian membawaku pulang, terakhir aku baru tau, bahwa kami bertetangga, rumah Richard dan rumahku tepat saling berdempetan. Seluruh keluarga mengucapkan terima kasih pada Richard yang telah menolongku. Papa segera menggendongku yang saat itu ketiduran, tidak lupa Papa mengecup pipiku dengan sayangnya, tanpa lupa berterima kasih kepada Richard yang telah menolongku.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 3


Tiba tiba saja terasa hangat di wajahku, sinar matahari yang terang tampak mulai menjelajahi wajahku yang pucat, begitu aku membuka mata, aku melihat sekelilingku berwarna putih, aku hendak bangkit dari tempat tidurku, namun aku tidak kuasa menggerakkan badanku. Aku melihat saudara Richard beserta mertuaku di sekeliling tempat tidurku memandangiku dengan penuh cemas.

“Kak, istirahatlah dulu, kak, jangan bergerak dulu, kamu masih lemah.” Lina, adik Richard yang paling kecil mencegahku bangkit dari tempat tidur.

“Dimana aku? Richard dimana?”  Aku mulai bertanya dengan lirih. Kupandangi satu persatu keluarga yang berdiri di sekelilingku, namun tak satupun yang menjawabku. Aku mulai bertanya lagi dengan berteriak, namun aku tidak bisa mendengarkan suaraku sendiri. Setelah itu di sekelilingku menjadi gelap, aku sudah tidak melihat apapun lagi.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 2


Lembut...

Ada sesuatu  yang lembut di pipiku..

Aku membuka mataku dengan perlahan. Kecupan lembut itu membangunku dari mimpi yang berkepanjangan, anehnya kecupan Richard malam ini berbeda dari biasanya, terasa dingin sekali.

Kupandang wajahnya yang pucat, badannya tampak menggigil kedinginan. Aku yang melihatnya menjadi kaget dan segera membawanya duduk di ruang tamu. Kemudian aku segera pergi hendak menyiapkan air hangat dan makanan hangat untuk Richard. Namun………. Richard menahanku dengan pelukannya, hari ini tidak seperti biasa, Richard nampak begitu aneh, dengan segala kerinduan dia mendekapku erat, sungguh badannya terasa beku dan dingin. Begitu dinginnya sampai aku juga ikut menggigil.

TERIMA KASIH TUHAN, AKU MENEMUKANMU!, Part 1



Pagi yang indah, ketika aku membuka mataku, kulihat senyuman suamiku tengah memandangku dengan mesra, “Ehm…, pagi sayang” Richard mengecup pipiku dengan mesra. “Lagi mimpi apa? Kok senyum senyum sendiri?”

“Ehm…, mimpi waktu kita bulan madu di Brastagi” jawabku dengan mesra, masih juga saling berpelukan, kami saling berkomunikasi dengan mesra.

Kring!!!

Tiba tiba saja suara handphone berbunyi, Richard segera mengambil handphone yang tergeletak pasrah di meja rias. Ternyata, bosnya yang menelepon, menyuruh Richard cepat masuk kerja, karena ada pelangan yang sedang memerlukan jasa mereka.

>

Arini