Donasi : Bank BCA -- No. Rek, 8305-11-8393 --- A/N : ARINI

Tampilkan postingan dengan label Tanya Jawab. Tampilkan semua postingan

Adakah seorang Arahat yang hidup pada saat sekarang ini?




Dari: Erwin, Irvine, CA
Adakah seorang Arahat yang hidup pada saat sekarang ini?
Jika ada, siapakah Dia dan dimana Ia tinggal sekarang? 
Karena saya belum pernah mendengar adanya Arahat kecuali dari kitab suci dan pembicaraan orang lain. 
Semoga semua makhluk hidup berbahagia. 
Erwin

Jawaban:
Dikatakan dalam Dhamma ketika Sang Buddha ditanya oleh murid Beliau bahwa apakah setelah Sang Buddha parinibbana (wafat) masih ada orang yang mencapai kesucian (arahatta)? Sang Buddha menjawab bahwa selama masih ada orang yang  melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di dunia ini selalu ada orang yang mencapai kesucian.

Oleh karena itu, saat ini pun, ketika ada orang yang melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka tentu ada orang yang telah mencapai kesucian.

Namun, informasi tentang siapa dan dimana beliau tidak bisa diberikan di sini karena orang yang telah mencapai kesucian tidak akan mengumumkan dirinya yang telah suci kepada masyarakat umum.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang umat Buddha bukan bertujuan untuk MENCARI orang yang telah mencapai kesucian, melainkan harus berjuang untuk MENCAPAI kesucian itu sendiri dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Dengan diri sendiri mencapai kesucian, maka di dunia ini akan bertambah satu orang yang suci atau arahatta sebagai bukti sabda Sang Buddha sebelum mangkat tersebut.

Selamat berjuang mencapai kesucian.
Semoga berhasil.
Salam metta,
B. Uttamo

 Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

Bagaimana caranya membersihkan pikiran kita dari kemarahan?



Dari: Linda, 
Namo Buddhaya,
Bagaimana caranya membersihkan pikiran kita dari kemarahan, karena seringkali
lingkungan kita sebagai penyebab kemarahan dan kebencian yang tak dapat kita
hindari? 
Terima kasih 

Jawaban:
Kemarahan akan timbul karena keinginan kita tidak sesuai dengan kenyataan.
Semakin besar perbedaan antara keinginan dan kenyataan, maka orang cenderung
akan makin marah.

Kalau sudah mengerti hal ini, untuk mengatasi kemarahan adalah dengan mengenali
keinginan sendiri sehingga bisa ditentukan: apakah memang sudah waktunya
keinginan itu diwujudkan, atau masih perlu usaha untuk mencapainya, atau mungkin
malah meninggalkan sama sekali keinginan tersebut, serta hal lainnya yang
berhubungan dengan keinginan tersebut.

Dengan mempelajari keinginan itu sendiri dan berusaha menyesuaikannya dengan
kenyataan yang ada, maka kemarahan akan bisa dikendalikan bahkan bisa
dilenyapkan. 

Hal ini juga termasuk kemarahan terhadap lingkungan. Sesungguhnya lingkungan
tidak pernah membuat kita marah. Mereka adalah netral. Yang berbeda adalah sikap
batin atau pikiran kita dalam menghadapi kelakuan mereka. Kalau keinginan kita
terhadap mereka tidak sesuai dengan kenyataan, maka timbullah marah kita kepada
mereka. Kalau yang terjadi sebaliknya, maka kita akan tidak marah lagi.

Perbedaan keinginan ini bisa dikenali dari sikap kita menghadapi kesalahan yang
sama pada dua teman yang berbeda, misalnya. Kita akan bisa memaklumi kesalahan
yang dilakukan oleh teman yang kita sukai, namun, kita menjadi marah kepada teman
yang tidak kita sukai, padahal semua sikap itu untuk kesalahan yang serupa.

Dengan demikian, kesalahan adalah netral, yang berbeda adalah pikiran kita sendiri.
Agar dapat membersihkan pikiran dari kemarahan, yang utama adalah menyadari
bahwa kemarahan berasal dari keinginan kita sendiri, sehingga kita harus dapat
menguasai keinginan itu. Salah satu cara sederhana untuk menguasai kemarahan
adalah dengan sering mengembangkan pikiran cinta kasih. Pengembangkan pikiran
cinta kasih ini dapat dilatih dengan sering mengucapkan sebanyak mungkin dalam
hati kalimat:'Semoga semua mahluk berbahagia'. Semakin sering mengucapkan
kalimat itu akan mempercepat kemampuan seseorang untuk mengendalikan bawah
sadarnya sehingga tidak mudah marah

Hal ini bisa dicapai karena dengan sering mengucapkan kalimat cinta kasih tersebut,
pikiran juga secara bertahap akan terisi dengan cinta kasih. Dengan demikian, bila
ada orang yang tidak memenuhi harapan kita, maka lama kelamaan dalam pikiran
akan timbul secara otomatis kalimat:'Semoga dia bahagia dengan sikapnya itu.'
Semakin banyak bisa memaklumi perbedaan dan kekurangan setiap orang yang
berada di sekitar, maka semakin sabar pula sikap kita.

Oleh karena itu, mengendalikan kemarahan membutuhkan waktu dan keuletan untuk
mengatasi diri sendiri.

Semoga saran singkat ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan cinta kasih
sehingga menumbuhkan kesabaran.
Salam metta,
B. Uttamo

Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’

Oleh Bhikkhu Uttamo

Apakah Usaha Pakan Ternak Melanggar Sila / bertentangan dengan 'melakukan Pekerjaan baik?




Dari: Ervina, Banjarmasin
Namo Buddhaya.
Saya punya teman yang akan membuka suatu usaha yaitu menjual pakan ternak.
Apakah hal ini melanggar sila / bertentangan dengan 'melakukan Pekerjaan baik? '
Terima kasih atas jawaban Bhante. 
Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta. 
Metta cittena, Ervina.

Jawaban:
Menjual pakan ternak sejauh tidak melakukan pembunuhan belum bisa digolongkan
pelanggaran sila.

Kalau mengusahakan pembuatan pakan ternak yang membutuhkan bangkai mahluk
hidup sebagai campurannya, hal ini bisa dikategorikan pekerjaan yang sebaiknya
dihindari.
Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat.
Salam metta,

B. Uttamo

 Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

Artikel Buddhist lainnya klik disini

Apakah yang kita dapatkan jika kita bermeditasi dengan objek kasina (api)?





Dari: Indra, 
Apakah yang kita dapatkan jika kita bermeditasi dengan objek kasina (api)? 
Apa perbedaannya antara meditasi dengan objek kasina dibandingkan meditasi
dengan objek nafas? 
Jika bermeditasi pada pukul 23.00 malam apakah baik? 
Ataukah tidak baik bagi kesehatan? 
Bagaimanakah mengatasi rasa mengantuk saat bermeditasi?

Jawaban:
Meditasi dengan kasina adalah untuk memperkuat visualisasi seseorang. Apabila
seseorang telah mampu memusatkan perhatian pada visualisasinya, maka kemampuan
batin tertentu akan bisa dilakukan. Kemampuan batin ini sesuai dengan
kecenderungan yang telah dimilikinya dari berbagai kehidupan lampaunya.
Perbedaan obyek meditasi kasina dengan pernafasan adalah pada saat seseorang
setelah mengembangkan konsentrasi lalu akan ditingkatkan untuk mengembangkan
kesadaran dalam vipassana, maka orang yang biasa bermeditasi dengan obyek kasina
perlu mengganti obyeknya agar sesuai untuk meditasi perenungan atau vipassana.
Karena kasina pada umumnya hanya digunakan untuk meditasi konsentrasi atau
samatha. Sedangkan meditasi dengan obyek pernafasan dapat dipergunakan untuk
samatha maupun vipassana. Oleh karena itu, biasanya para guru meditasi
menganjurkan para muridnya untuk mengembangkan meditasi dengan obyek
pernafasan agar apabila ia ingin memperdalam samatha, hal ini akan bisa terus
ditingkatkan, namun, kalau ia ingin mengembangkan vipassana, ia juga tidak perlu
mengganti obyek meditasinya.

Meditasi pada tingkat pemula lebih disarankan pada pagi hari sekitar jam 3 sampai
dengan jam 5, namun, kalau sudah mahir, sebenarnya meditasi tidak tergantung
waktu. Bahkan, karena meditasi adalah mengembangkan konsentrasi yang bertujuan
untuk selalu menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan, diucapkan maupun
dilakukan, maka setiap saat adalah waktu yang tepat untuk bermeditasi tanpa
terganggu kesehatannya.
Selamat berlatih meditasi.
Semoga selalu bahagia.
Salam metta,

B. Uttamo

Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo 


Artikel Buddhist lainnya klik disini

Konsep Manusia Dalam Agama Buddha





Dari: Marduwati, 
Saya merupakan penuntut di universiti. 
Saya ditugaskan untuk menyediakan satu laporan mengenai konsep manusia dalam Agama Buddha. Oleh itu, saya ingin mendapatkan sedikit maklumat mengenai
"konsep manusia dalam Agama Buddha". 
Saya mohon kerja sama dari pihak tuan. terima kasih.

Jawaban:
Manusia dalam pengertian Buddhis terdiri dari badan dan batin.
Sedangkan batin terdiri dari perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran.
Manusia berasal dari suatu proses yang terjadinya bersamaan dengan proses terjadinya dunia ini.

Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini,
mendapatkan kebahagiaan setelah meninggal dengan terlahir kembali di alam bahagia  
yang dikenal sebagai surga atau bahkan mampu mengatasi proses kelahiran kembali
yang telah berulang-ulang ini dengan mengendalikan pikirannya agar dapat selalu
menyadari hidup adalah saat ini.

Pada umumnya, pikiran manusia selalu terpaku pada masa lalu atau masa depan
sehingga timbullah kegelisahan, ketakutan maupun kecemasan.

Dengan menyadari bahwa di masa lalu kita pernah hidup, namun sudah tidak hidup
lagi; pada masa yang akan datang kita akan hidup, namun belum tentu hidup; namun
pada saat inilah kita sesungguhnya yang hidup, maka manusia akan dapat hidup
tenang dan bahagia, terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Untuk mendapatkan kesadaran akan hidup saat ini, seseorang dapat melatih
konsentrasi pikirannya dalam meditasi.

Meditasi adalah memusatkan perhatian pada satu obyek, misalnya dengan mengamati
proses masuk dan keluarnya pernafasan. Apabila pikiran menyimpang dengan
memikirkan hal lain, maka hendaknya ia kembalikan pikirannya dengan memusatkan
perhatian pada obyek. Demikian seterusnya dilatih dengan rutin dan disiplin, maka
lama kelamaan ia akan mampu mengkonsentrasikan pikiran pada kegiatan yang
sedang dikerjakan, ucapan yang sedang dilakukan maupun segala sesuatu yang
sedang dipikirkan. Dengan demikian, manusia akan mencapai batin yang yang
tenang, bersih, sempurna, bebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin
sehingga ia tidak akan terlahirkan kembali.

Inilah secara sangat sangat singkat konsep manusia dalam pengertian Agama Buddha.
Semoga hal ini dapat dijadikan sedikit tambahan wawasan.

Untuk informasi lainnya, mungkin bisa mencari referensi umum yang banyak terdapat
di internet maupun buku-buku Agama Buddha lainnya.

Semoga sukses dan bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo


 Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’

Hubungan antara Karma dengan Pelanggaran Sila Dalam Kondisi Terpaksa



Dari: Subhadevi, Surabaya

Namo Buddhaya, 

Kalau kita telah melakukan suatu hal yang kita tahu bahwa itu adalah melanggar Sila
( misalnya melakukan pembunuhan terhadap mahluk hidup) tapi hal itu kita lakukan
dengan benar2 terpaksa karena mengganggu kesehatan, tapi kemudian kita selalu
"dihantui" akan akibat perbuatan tsb., apa yang harus kita lakukan ? 

Karena bukankah "dihantui" tersebut sudah bisa mengkondisikan karma buruk kita
akan berbuah karena pikiran kita selalu mengarah kesana?
 
Apakah dengan hanya berbuat banyak kebaikan saja buah karma buruk yang
sebenarnya dari akibat perbuatan tersebut bisa "hilang" ? 

Anumodana atas perhatiannya. 
Namaskara, subhadevi 



Jawaban:

Merasa bersalah atas kesalahan yang telah dilakukan adalah merupakan buah karma
buruk. Sedangkan, melakukan kesalahan itu sendiri adalah menanam karma buruk.

Namun, apabila kesalahan yang berupa pelanggaran sila itu dilakukan karena kondisi
terpaksa, seperti seorang prajurit yang menembak mati musuhnya di medan perang,
maka buah karma buruk yang akan diterimanya tidak sebesar kalau kesalahan itu
dilakukan bukan berdasarkan keterpaksaan.

Untuk mengatasi perbuatan buruk yang telah dilakukan, seseorang hendaknya lebih
banyak mengembangkan kebajikan dengan melakukan kerelaan, kemoralan dan
konsentrasi. 

Dengan demikian, ibarat segelas air yang berisikan garam sesendok,
apabila terus ditambah air, maka garam yang sesendok itu akan hilang rasa asinnya.

Garam adalah melambangkan kesalahan yang telah dilakukan, air adalah
melambangkan kebajikan yang dilakukan. 

Dengan menambah kebajikan tanpa kenal putus asa, maka buah karma buruk 
yang telah dilakukan akan dapat lebih ringan dirasakannya namun bukan berarti bisa 'hilang' begitu saja.

Semoga penjelasan singkat ini dapat lebih menenangkan perasaan.

Semoga bahagia.

Salam metta,

B. Uttamo 


Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’

Oleh Bhikkhu Uttamo

Tanya Jawab: Puasa Mutih, Vegetarian, Aliran Buddhis


Dari: Ceria Salim, Jakarta
Apakah diperbolehkan dalam Buddha kalo kita melaksanakan mutih ( hanya makan nasi putih dan minum air putih. 
Mengenai vegetarian, kok fleksible sekali yach (mungkin karena  Buddha sendiri demokrat dan fleksible ke semua orang). padahal kan kita sebagai Buddhis harusnya  mengasihi sesama kita. (kok Buddhis banyak aliran spt agama Islam-Kristen-Katolik, knapa tidak disatukan jadi 1 keluarga aja) 
Semoga semua mahkluk berbahagia slalu sepanjang masa. 

Jawaban:
Di dalam Agama Buddha, karena tradisi yang telah dipercaya boleh saja dikerjakan,  maka tentu saja mutih masih bisa dikerjakan sesuai dengan yang diniatkan. Hal ini  karena tujuan Agama Buddha adalah mencapai kesucian yaitu terbebas dari  ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, sedangkan tradisi lebih banyak tidak  mengarahkan untuk mencapai kesucian tersebut. Jadi, dengan sederhana, bukan  karena cara makan seseorang bisa mencapai kesucian, namun hanyalah karena cara  berpikir.

Tentang Vegetarian, memang Sang Buddha tidak pernah mengharuskan, artinya,  siapapun yang ingin melatih bisa melaksanakannya, namun bukanlah keharusan. Hal  ini karena seperti pertanyaan sebelumnya, bahwa suci dan tidak suci bukanlah  tergantung karena makanan, melainkan dari cara berpikir seseorang. Pikiran adalah  pelopor segalanya.

Sedangkan terdapat beberapa aliran Agama Buddha dalam masyarakat adalah karena  Buddha Dhamma tidak menentang tradisi. Jadi, setiap kali Buddha Dhamma masuk  ke suatu kelompok masyarakat, maka tercampurlah dengan tradisi setempat. Oleh  karena itu, tampaknya Agama Buddha terdiri dari banyak kelompok, padahal, pada  dasarnya intinya sama yaitu Ajaran Sang Buddha untuk mengurangi ketamakan,  kebencian dan kegelapan batin.

Semoga sekarang Anda sudah tidak bingung lagi.
Salam metta,
B. Uttamo

Sumber :
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’

Oleh Bhikkhu Uttamo

Artikel Buddhist lainnya klik disini

Apakah perasaan yang kita rasakan terhadap sesuatu sama artinya dengan batin?



Dari: Mellisa, 
Namo Buddhaya,
Apakah perasaan yang kita rasakan terhadap sesuatu sama artinya dengan batin? 
Bagaimanakan hal ini jika dikaitkan dengan konsep anatta? 
Siapakah yang merasakan sesuatu? 

Dengan menikah maka akan muncul suatu karma lagi yaitu kepada suami/istri serta anak2, jika mengetahui hal tersebut, apakah kita dibenarkan untuk melakukan pernikahan?

Hasil gambar untuk Bhikkhu Uttamo

Dari: Mellisa, 
Namo Buddhaya, 
Dengan menikah maka akan muncul suatu karma lagi yaitu kepada suami/istri serta  anak2, jika mengetahui hal tersebut, apakah kita dibenarkan untuk melakukan  pernikahan? 
Terima kasih

Apakah kita boleh belajar meditasi sendiri hanya dengan panduan buku?


Pertanyaan :

Mardiana: Apakah kita boleh belajar meditasi sendiri hanya dengan panduan buku?


Apa nilai paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita?



Pertanyaan:
Han: Apa nilai paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita?


Ajahn kini berusia 64 tahun, namun kelihatannya masih sangat muda. Apa rahasia kebugaran Ajahn?



Pertanyaan:
Han: Ajahn kini berusia 64 tahun, namun kelihatannya masih sangat muda. Apa rahasia kebugaran Ajahn?

Kadang ada cerita orang meninggal terkena ilmu hitam oleh orang yang tidak menyukainya. Bagaimana kita mengatasinya?


Pertanyaan :
Ratna Wijaya: Kadang ada cerita orang meninggal terkena ilmu hitam oleh orang yang tidak menyukainya. Bagaimana kita  mengatasinya?

Bagaimana cara menghadapi orang terdekat yang sudah salah, namun keras kepala dan tidak mau diatur? Bagaimana berdamai dengan diri sendiri, karena melihatnya saja sudah kesal.



Pertanyaan :

Vera Jayanti Djasman: Bagaimana cara menghadapi orang terdekat yang sudah salah, namun keras kepala dan tidak mau diatur? Bagaimana berdamai dengan diri sendiri, karena melihatnya saja sudah kesal.

Meditasi itu baik untuk menenangkan hati, tapi saya sulit membulatkan tekad untuk melakukannya. Bagaimana cara mendorong keyakinan untuk mau bermeditasi?

Pertanyaan :
Ling Lingga Pratiwi: Meditasi itu baik untuk menenangkan hati, tapi saya sulit membulatkan tekad untuk melakukannya.  Bagaimana cara mendorong keyakinan untuk mau bermeditasi?

Mengapa saya suka melihat wajah Ajahn tertawa di setiap poster dan buku?



Pertanyaan :
Yuliana: Mengapa saya suka melihat wajah Ajahn tertawa di setiap poster dan buku?

Sabar itu memang tidak ada batasnya, tapi sampai pada titik apa kita boleh bersabar?


Pertanyaan :
Wenni Lee: Sabar itu memang tidak ada batasnya, tapi sampai pada titik apa kita boleh bersabar?

Mengapa kita selalu takut akan sesuatu yang belum terjadi? Apakah itu salah satu kotoran batin atau sebuah persepsi bawah-sadar?




Pertanyaan :
Chia Yin: Mengapa kita selalu takut akan sesuatu yang belum terjadi? Apakah itu salah satu kotoran batin atau sebuah  persepsi bawah-sadar?

Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?

Pertanyaan :
Han: Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?

Apa sih tujuan manusia itu hidup?



Meli Laurensia: Apa sih tujuan manusia itu hidup?

Jawaban :
Ajahn Brahm: Tujuan hidup adalah belajar, bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Sama seperti pergi ke sekolah. Jika Anda  tidak lulus ujian, Anda harus mengulangnya lagi. Jika Anda gagal dalam ujian kehidupan, Anda harus kembali lagi. Dengan  memakai popok, mengisap kempeng di mulut, Anda harus masuk sekolah kehidupan dari awal lagi. Maka berlatihlah dengan baik, jadilah orang yang lebih baik, lebih bijak, bermeditasilah, dan Anda akan lulus ujian kehidupan. Anda tidak akan kembali  lagi.

>

Arini