Penggunaan Paritta Dalam Upacara - Catatan
CATATAN :
1. Dalam memimpin upacara-upacara, Pandita pemimpin upacara
diharap mengenakan busana kepanditaan.
2. Bila keadaan memungkinkan, dalam upacara-upacara dibuat cetiya
(altar). Di atas altar ditempatkan :
• Patung atau gambar Sang Buddha.
• Dupa dan tempat menaruh dupa (hio).
• Lilin dan lampu: minimal sepasang.
• Bunga: di talam atau di vas.
Altar bisa diatur seindah mungkin.
3. Sebelum pembacaan paritta dimulai, yang mohon pemberkahan
atau kedua orang tua dari yang bersangkutan, menyalakan lilin,
dupa dan bernamaskāra di depan altar dengan dipimpin oleh
Pandita pemimpin upacara.
4. Bila bhikkhu atau sāmaṇera dimohon melakukan pemberkahan,
tata upacara adalah sebagai berikut :
• Pandita memimpin yang memohon pemberkahan atau kedua
orang tua dari yang bersangkutan, dan semua umat yang hadir,
membaca Ārādhanā Tisaraṇa Pañcasīla (Permohonan tuntunan
Tisaraṇa dan Pañcasīla): Okāsa ahaṁ Bhante . . . . ; atau Mayaṁ
Bhante . . . .
• Pandita memimpin yang bersangkutan membaca Ārādhanā
Paritta (Permohonan membacakan Paritta).
• Pada waktu bhikkhu atau sāmaṇera membacakan paritta dan
memercikkan air pemberkahan, peserta upacara duduk bersikap
añjali dengan khidmat.
CATATAN :
1. Dalam memimpin upacara-upacara, Pandita pemimpin upacara
diharap mengenakan busana kepanditaan.
2. Bila keadaan memungkinkan, dalam upacara-upacara dibuat cetiya
(altar). Di atas altar ditempatkan :
• Patung atau gambar Sang Buddha.
• Dupa dan tempat menaruh dupa (hio).
• Lilin dan lampu: minimal sepasang.
• Bunga: di talam atau di vas.
Altar bisa diatur seindah mungkin.
3. Sebelum pembacaan paritta dimulai, yang mohon pemberkahan
atau kedua orang tua dari yang bersangkutan, menyalakan lilin,
dupa dan bernamaskāra di depan altar dengan dipimpin oleh
Pandita pemimpin upacara.
4. Bila bhikkhu atau sāmaṇera dimohon melakukan pemberkahan,
tata upacara adalah sebagai berikut :
• Pandita memimpin yang memohon pemberkahan atau kedua
orang tua dari yang bersangkutan, dan semua umat yang hadir,
membaca Ārādhanā Tisaraṇa Pañcasīla (Permohonan tuntunan
Tisaraṇa dan Pañcasīla): Okāsa ahaṁ Bhante . . . . ; atau Mayaṁ
Bhante . . . .
• Pandita memimpin yang bersangkutan membaca Ārādhanā
Paritta (Permohonan membacakan Paritta).
• Pada waktu bhikkhu atau sāmaṇera membacakan paritta dan
memercikkan air pemberkahan, peserta upacara duduk bersikap
añjali dengan khidmat.
|